Jakarta, CNN Indonesia --
Siapa sangka seorang pemilik rumah kos di Surabaya, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto ternyata menjadi salah satu fondasi bagi pergerakan nasional di masa kolonialisme Belanda.
Dia bahkan dijuluki 'Raja Jawa Tanpa Mahkota' oleh Belanda karena pengaruhnya yang berhasil membangkitkan kesadaran politik dan spiritual umat islam melalui Sarekat Islam.
Sementara itu, Republik Indonesia kemudian menobatkan HOS Tjokroaminoto sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Presiden No. 590 Tahun 1961 pada 9 November 1961.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah kediaman pribadi HOS Tjokroaminoto di salah satu gang Jalan Peneleh, Surabaya, disulap jadi tempat kos oleh istrinya, Soeharsikin. Tempat indekos itu kemudian ditempati para pemuda yang kemudian menjadi tokoh pergerakan nasional di era kolonial seperti Sukarno, Musso, Kartosoewirjo, dan Alimin.
Rumah yang kini telah menjadi museum itu jadi saksi diskusi politik yang melahirkan ide-ide kebangsaan, dan Sukarno melatih orasinya.
Kiprah HOS Tjokroaminoto dalam pergerakan makin mencuat setelah dia memimpin transformasi Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam (SI). Nama HOS Tjokroaminoto semakin terkenal setelah ia sukses menyelenggarakan kongres SDI pertama di Surabaya pada 26 Januari 1913.
Kongres itu merupakan salah satu keputusan yang sangat bersejarah, karena dalam kongres itu nama Sarekat Dagang Islam (SDI) berubah menjadi Sarekat Islam (SI), dan mengubah konsep pergerakan yang berorientasi sosial-politik.
Pascakongres itu H Samanhudi menyerahkan kursi kepemimpinan SI kepada HOS Tjokroaminoto.
HOS Tjokroaminoto memimpin SI selama periode tahun 1912 hingga 1934. Dalam kurun waktu tersebut, ia berhasil mengembangkan SI menjadi organisasi yang diperhitungkan, bahkan meresahkan pemerintah kolonial Belanda.
Anggota dan simpatisannya banyak dan berasal dari berbagai lapisan masyarakat.
Bukan hanya di tempat asalnya, SI berkembang dengan begitu pesat di daerah-daerah lain. Pada 1934, anggota SI mencatatkan jumlah sebanyak 490.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sarekat Islam (SI) memajukan ekonomi umat, memperbaiki pemahaman islam, dan tuntut keadilan sosial melawan kolonialisme.
Pidato-pidatonya membangkitkan semangat nasionalisme religius, dengan trilogi 'Setinggi-tingginya ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat', akhirnya menjadi embrio pergerakan para tokoh pergerakan nasional yang patriotik.
Dalam perkembangan Islam di nusantara, pada 1922, HOS Tjokroaminoto bersama dengan Haji Agus Salim, menginisiasi Kongres Al-Islam di Cirebon untuk menyatukan muslimin menghadapi kolonialisme.
Lepas kongres itu, HOS Tjokroaminoto dan KH Mas Mansur dari Muhammadiyah memenuhi undangan Ibnu Su'ud untuk menghadiri Kongres Khilafat yang diselenggarakan di Mekkah, Arab Saudi, pada 1926 .
Kembali ke nusantara, HOS Tjokroaminoto bersama Haji Agus Salim membentuk Muktamar Alam Islami Far'ul Hindis Syarqiyyah (MAIHS) yang merupakan cabang dari Muktamar Alam Islami di Mekkah. Ia menjadi Ketua MAIHS, dan Agus Salim sebagai sekretarisnya.
Jasa yang lain adalah HOS Tjokroaminoto bersama Haji Agus Salim, mendirikan Organisasi Haji Hindia. Organisasi ini bertujuan untuk memberi penerangan tentang ibadah haji bagi umat Islam yang hendak melakukan ibadah haji.
Mengutip dari Ensiklopedia Pahlawan Nasional repositori Kemendikdasmen, pada 25 November 1918, Tjokroaminoto bersama Abdul Muis yang mewakili Volksraad (Dewan Rakyat) mengajukan MOSI.
Dalam pidatonya, Tjokroaminoto selalu mengecam tindakan-tindakan Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian pada 1920, Tjokroaminoto dianggap menghasut dan menyiapkan suatu pemberontakan terhadap Belanda sehingga dijebloskan ke dalam penjara.
Pria yang mendapat julukan Guru Bangsa yang lahir pada 16 Agustus 1882 di Ponorogo itu merupakan seorang keturunan kiai terkemuka dan bangsawan. Kakeknya adalah RM Adipati Tjokronegoro yang menjadi bupati di Ponorogo. Selain itu, buyutnya adalah Kiai Bagoes Kasan Basari, ulama terkenal yang punya pondok pesantren di daerah Tegalsari.
HOS Tjokroaminoto meninggal dunia pada usia di Yogyakarta pada 17 Desember 1934. Dia dimakamkan di Taman Makan Pahlawan (TMP) Pekuncen, dan nisannya ada tulisan "Pahlawan Islam jang utama H.O.S Tjokroaminoto 10 Ramadlan 1353".
Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama, tokoh, dan cendekiawan muslim yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah.
(kna/kid)

13 hours ago
5
















































