Siapa Pengusaha RI Tertangkap di Singapura karena Uang Palsu $10 Ribu?

6 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang pengusaha Indonesia yang teridentifikasi sebagai Steven terlibat penyelidikan di Singapura terkait dugaan penggunaan uang kertas palsu senilai Sing$10 ribu di Kasino Resorts World Sentosa (RWS).

Total 34 lembar uang kertas palsu diduga digunakan Steven, selama tiga kunjungan ke kasino pada Juni, mengutip Straits Times, Minggu (20/9).

ST memahami bahwa uang kertas tersebut diterima dan ditukar dengan chip kasino sebelum terdeteksi sebagai uang palsu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengacara pengusaha tersebut yang berbasis di Jakarta, Yosia, mengatakan bahwa kliennya adalah korban penipuan dan tidak mengetahui bahwa uang kertas tersebut palsu.

Ia mengatakan bahwa uang kertas dolar Singapura itu diberikan kepada Steven sebagai pembayaran untuk sebuah ruko yang sedang ia jual di Tangerang Selatan.

Yosia mengatakan kliennya menerima catatan tersebut dari seorang pria bernama Anthony, yang dikenalkan oleh salah satu teman Steven, yang hanya diidentifikasi sebagai Rangga.

Pada pertemuan tanggal 8 Juni di sebuah kafe di Jakarta, Anthony memberinya selembar uang kertas senilai Sing$10 ribu dengan alasan ingin menukarkan uang tersebut karena sudah kedaluwarsa.

Yosia mengatakan Rangga meyakinkan Steven, dengan mengatakan bahwa uang kertas itu telah diperiksa di cabang OCBC di Indonesia dan dinyatakan asli.

Steven terbang ke Singapura keesokan harinya, di mana seorang penukar uang menolak untuk menerima uang kertas itu karena jumlahnya terlalu besar.

Yosia mengatakan kliennya mengunjungi bank tetapi diberitahu bahwa dia harus membuka rekening untuk menukar uang kertas tersebut dengan pecahan yang lebih kecil, tetapi dia tidak dapat melakukan hal itu.

Saat berkunjung ke RWS, Yosia diperkenalkan kepada seorang petugas VIP yang menyarankan agar ia menukarkan uang kertas tersebut di kasino. Uang kertas itu kemudian diduga diverifikasi dan ditukar dengan chip kasino.

Anthony kembali bertemu dengan Steven pada 11 Juni, setelah pengusaha tersebut kembali ke Jakarta, dan menyerahkan 33 lembar uang kertas pecahan Sing$10 ribu untuk ditukarkan ke pecahan yang lebih kecil di Singapura.

Anthony mengklaim uang tersebut merupakan warisan dari orang tuanya.

Menurut Yosia, Anthony menyatakan ingin membeli ruko milik Steven yang ditawarkan pengusaha tersebut seharga Rp4,5 miliar (S$322.000).

Anthony mengatakan akan membayar Steven ketika pengusaha tersebut kembali ke Jakarta dengan mata uang Singapura dalam pecahan yang lebih kecil.

Yosia mengatakan kliennya kemudian pergi ke Singapura pada 12 Juni dan menyetorkan 27 lembar uang kertas palsu pecahan Sing$10 ribu ke rekeningnya di kasino. Enam lembar uang kertas lainnya tetap berada di rumahnya di Indonesia.

Yosia mengatakan ketika Anthony meminta uang pecahan Sing$10 ribu dalam pecahan yang lebih kecil, Steven mengatakan mereka sebaiknya pergi bersama ke Singapura untuk mengambil uang tersebut.

"Anthony menolak dengan mengatakan bahwa dia tidak memiliki paspor dan masih memiliki urusan bisnis di Indonesia," kata Yosia.

Pada 22 Juni, Steven menggunakan enam lembar uang kertas palsu pecahan Sing$10 ribu yang disimpan di Jakarta sebagai pembayaran untuk sebuah rumah di Pamulang, Provinsi Banten, yang dibeli pengusaha tersebut pada Mei 2025.

Namun, putri penjual rumah tersebut kesulitan menukarkan uang kertas itu di tempat penukaran uang di Jakarta.

Polisi Tangerang Selatan mengonfirmasi keterangan tersebut dalam pernyataan pada 3 Juli.

Kepala Kepolisian Tangerang Selatan, Inspektur Polisi Boy Jumalolo, mengatakan pihaknya meminta Singapore Police Force (SPF) memastikan 34 lembar uang kertas yang disita merupakan uang palsu.

Boy mengatakan kepada ST bahwa mereka mengadakan pertemuan melalui aplikasi Zoom pada 14 September dengan perwakilan SPF, termasuk atase SPF di Jakarta.

"Pada pertemuan itu, kami meminta SPF untuk mengeluarkan surat yang menyatakan bahwa 34 lembar uang kertas pecahan Sing$10.000 dari tahun 1973 yang telah disita adalah uang palsu," kata Boy.

"Hingga saat ini, penyidik Indonesia baru menerima salinan tanda terima penyitaan yang menyebutkan bahwa barang-barang tersebut 'diyakini tidak asli'," sambungnya.

Dia menambahkan bahwa penyidik Indonesia saat ini sedang memanggil para saksi.

Juru bicara SPF mengonfirmasi bahwa laporan telah dibuat dan mengatakan penyelidikan masih berlangsung.

(van/mik)

Read Entire Article
Olahraga Sehat| | | |