Orang Tua di Pontianak Minta Sekolah Libur Imbas Asap Pekat Karhutla

5 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Orang tua murid di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) berharap Dinas Pendidikan setempat meliburkan atau menerapkan proses belajar mengajar dalam jaringan (daring) karena kabut asap di kota itu kembali pekat.

"Dalam tiga hari ini asap mulai pekat. Hari ini juga. Sebelumnya sempat libur, sudah masuk lagi. Kalau kondisi mulai pekat lagi, saya berharap kembali sekolah diliburkan atau belajar dari rumah saja secara daring," kata orang tua murid siswa kelas 2, MIN 4 Pontianak, Rahmawati di Pontianak, Jumat (21/8).

Ia mengaku mengkhawatirkan kondisi anaknya jika tetap ke sekolah dalam kondisi kabut asap pekat. Menurutnya udara yang tidak baik berpotensi membuat anak terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita tahu anak-anak di sekolah pasti bermain di luar dan belum mengerti betul asap itu berbahaya. Jadi kami harap Pemerintah Kota Pontianak melalui dinas terkait mengeluarkan kebijakan untuk sementara bisa meliburkan atau belajar secara daring, " harap dia.

Pada Agustus 2026, kabut asap mulai melanda sejumlah daerah di Kalbar termasuk di Kota Pontianak. Kabut asap dampak dari kebakaran lahan di sejumlah daerah.

Sebanyak 3.759 titik panas terdeteksi di wilayah Kalimantan Barat berdasarkan pemantauan pada 20 Agustus 2026 pukul 00.00 hingga 23.00 WIB.

Data itu bersumber dari BPBD Provinsi Kalimantan Barat berdasarkan pemantauan BMKG.

Sumber data yang sama menunjukkan dari total titik panas yang terdeteksi, sebanyak 224 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 3.389 titik kepercayaan menengah, dan 146 titik kepercayaan rendah.

Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 1.795 titik. Selanjutnya Sanggau sebanyak 466 titik, Landak 268 titik, Kubu Raya 254 titik, Kayong Utara 200 titik, dan Melawi 190 titik.

Kemudian Sekadau tercatat 150 titik, Kapuas Hulu 126 titik, Sintang 111 titik, Bengkayang 95 titik, Sambas 59 titik, Mempawah 44 titik, serta Singkawang 1 titik. Sementara itu, Kota Pontianak tidak terdeteksi titik panas pada periode pemantauan tersebut.

Deteksi titik panas dilakukan menggunakan sensor VIIRS dan MODIS yang terpasang pada sejumlah satelit, yakni NOAA-20, S-NPP, Terra, dan Aqua. Satelit tersebut mendeteksi adanya anomali suhu panas dibandingkan kondisi di sekitarnya.

Sedangkan untuk kualitas udara di Kota Pontianak terpantau berada pada kondisi yang sangat buruk. Berdasarkan data IQAir, indeks kualitas udara (AQI⁺ US) Pontianak mencapai 491 pada pukul 09.00 WIB, Kamis, 21 Agustus 2026.

Angka tersebut masuk dalam kategori "Berbahaya" (Hazardous). Pada kondisi seperti ini, kualitas udara tidak hanya menjadi perhatian bagi kelompok rentan, tetapi berpotensi memberikan dampak kesehatan bagi masyarakat secara umum.

Dalam data IQAir tersebut, PM2.5 menjadi polutan utama dengan konsentrasi mencapai 321 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

PM2.5 merupakan partikel polusi berukuran sangat kecil yang dapat terhirup hingga masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan terhadap partikel halus dalam jumlah tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan berdampak pada kesehatan jantung.

Masyarakat diimbau untuk lebih memperhatikan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara sedang sangat buruk, dapat menjadi langkah untuk mengurangi paparan polusi.

(antara/wis)

placeholder

Read Entire Article
Olahraga Sehat| | | |