Jakarta, CNN Indonesia --
Di balik tumbuhnya Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam di Indonesia hingga saat ini, pada awal pendiriannya ada sosok perempuan yang tekun bekerja dalam sunyi.
Dialah Siti Walidah atau dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, istri dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Bukan hanya mendampingi suka duka sebagai istri, perempuan dari Kauman, Yogyakarta, itu pun turut menempa kematangan Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam di nusantara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nyai Ahmad Dahlan menjadikan dakwah, pendidikan, dan keberdayaan perempuan sebagai jalan hidupnya. Dia mendampingi KH Ahmad Dahlan bermunajat hingga merintis pendirian Muhammadiyah pada 1912.
Nyai Ahmad Dahlan aktif memimpin pengajian perempuan serta menggerakkan wanita agar melek agama, baca-tulis serta percaya diri. Dia dalah salah satu peletak fondasi Aisyiyah--organisasi perempuan sayap Muhammadiyah.
Mengutip dari laman resmi PP Aisyiyah, Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan adalah
Mengutip dari Ensiklopedia Pahlawan Nasional, Siti Walidah atau yang dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan, lahir di Yogyakarta pada tahun 1872. Ia tidak pernah mendapat pendidikan formal di sekolah umum selain mengaji Al-Qur'an dan mendapat pelajaran agama dalam bahasa Jawa berhuruf Arab.
Kemudian, dilansir dari laman resmi Pimpinan Pusat Aisyiyah, Siti Walidah adalah putri keempat dari tujuh bersaudara anak Kiai Penghulu Haji Muhammad Fadhil.
Salah satu adiknya adalah KH Ibrahim pernah menjabat sebagai President Hoofdbestuur Muhammadiyah pada periode 1923-1932.
Di masa mudanya, ketika sudah siap menikah, Nyai Ahmad Dahlan dijodohkan dengan salah satu putra kerabat ayahnya melalui sistem perkawinan keluarga yang lazim terjadi di Kauman.
Muhammad Darwis yang kemudian dikenal dengan nama KH Ahmad Dahlan menikahi Siti Walidah pada 1889. Dahlan adalah putra dari KH Abubakar yang saat itu Khatib Amin Masjid Agung (Besar) Kesultanan Yogyakarta.
Setelah pulang dari Mekkah, Dahlan yang menimba ilmu kepada tokoh-tokoh pembaharu Islam kemudian mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Itu adalah organisasi pembaruan Islam pertama di Yogyakarta.
Sejak Muhammadiyah berdiri, Siti Walidah mendukung perjuangan sang suami melalui perannya mengusahakan pendidikan (pengajian) kaum wanita di beberapa kampung, seperti Kauman, Lempuyanagan, Karangkajen dan Pakualaman.
Perkumpulan pengajian ini dikenal dengan nama Wal Ashri. Ia juga kerap kali menggantikan peran suaminya, menyampaikan pengajian di forum Wal Ashri.
Nyai Ahmad Dahlan atau Siti Walidah menemani sang suami berjuang lewat Persyarikatan Muhammadiyah hingga wafat. Terlebih setelah peninggalan suaminya, Ia tampil sebagai pembina sekaligus penggerak organisasi, khususnya Aisyiyah.
Perjuangan untuk Perempuan & Berdirinya Aisyiyah
Masih mengutip dari laman resmi Pimpinan Pusat Aisyiyah, Nyai Ahmad Dahlan juga menaruh perhatian besar kepada para buruh perempuan di unit usaha batik Kauman.
Dia menyediakan asrama untuk perempuan pekerja batik di daerah Kauman.
Di sana para pekerja perempuannya diajari pengetahuan agama, membaca, dan menulis dengan tujuan agar mereka bersikap jujur dan tidak merasa kecil hati karena menganggap diri mereka bodoh.
Perkumpulan pengajian tersebut dikenal dengan nama Maghribi School.
Pada 1917, nama perkumpulan perempuan itu berubah menjadi "Aisyiyah" yang sebelumnya diusulkan dengan nama "Fathimah." Menariknya, Nyai Ahmad Dahlan tidak menjadi ketua umum Aisyiyah.
Tercatat yang menjadi ketua pertama Aisyiyah adalah Siti Bariyah, adik perempuan Haji Fachrodin. Barulah pada 1921, dalam Algemene Vergadering di Yogyakarta, Nyai ahmad Dahlan terpilih menjadi ketua Hoofdbestuur Muhammadiyah Bahagian Aisyiyah menggantikan posisi Siti Bariyah.
Pada 1922, dalam Algemene Vergadering, ia terpilih kembali menjadi ketua. Di kepemimpinannya kala itu, ia berfokus pada pendidikan sehingga ia mendirikan Taman Kanak-Kanak dengan nama Frobe School.
Di kemudian hari, Taman Kanak-Kanak itu menjadi Bustanul Athfal hingga Nyai Ahmad Dahlan terpilih kembali menjadi ketua Aisyiyah pada Kongres Muhammadiyah ke-15 yang digelar di Surabaya pada tahun 1926.
Nyai Ahmad Dahlan meninggal dunia pada 31 Mei 1946 di Yogyakarta. Atas dedikasi dan perjuangannya, Pemerintah Indonesia memberikan gelar pahlawan nasional melalui Surat Keputusan (SK) Presiden Republik Indonesia No. 042/TK/Tahun 1971.
Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama, tokoh, dan cendekiawan muslim yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah.
(nat/kid)

13 hours ago
8
















































