Jakarta, CNN Indonesia --
Sejarah lahir terkadang bukan dari adu tarung senjata, ada pula yang lahir dari desir-desir doa yang panjang di Tanah Suci.
Salah satunya adalah KH Raden As'ad Syamsul Arifin, Pahlawan Nasional yang ditetapkan negara pada 2016 lalu. Dia adalah seorang ulama yang juga pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia saat terjadi agresi Belanda.
Ia lahir jauh dari nusantara dan tanah Jawa yang jadi kampung halamannya, melainkan di Tanah Suci Mekkah Almukaromah di jazirah Arab pada 1897.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kota suci yang tak pernah tidur dari zikir kepada Yang Maha Kuasa itu, As'ad memulai hidup ketika orang tuanya sedang bermukim untuk menunaikan ibadah haji seraya menimba ilmu agama Islam di sana.
Ia adalah putra sulung dari pasangan KH Syamsul Arifin (Raden Ibrahim) dan Nyai Siti Maimunah. Mengutip dari NU Online, ayahnya adalah keturunan dari Sunan Kudus, sementara ibundanya masih keturunan dari Sunan Ampel.
Berasal dari keluarga yang berlatar belakang agamis, As'ad kecil hingga remaja menimba ilmu di berbagai pesantren dari mulai di Pulau Madura, Jawa, hingga Mekkah yang jadi tanah kelahirannya.
Saat berumur enam tahun, As'ad diantarkan ke Pamekasan di Pulau Madura untuk tinggal di Pondok Pesantren Kembang Kuning.
Setelah tinggal di Pamekasan selama lima tahun, As'ad kecil diajak sang ayah untuk pindah ke Pulau Jawa. Mereka menetap di daerah Sukorejo, Banyuputih, Situbondo yang masih tertutup pepohonan.
Di sana ayahnya membangun pondok pesantren untuk berdakwah dan mengajarkan agama Islam.
Mulanya pesantren tersebut hanya berupa gubuk kayu kecil, musala, dan asrama santri serta hanya dihuni beberapa orang. Pondok itu terus berkembang karena makin banyak santri berdatangan untuk belajar ilmu agama. Dengan demikian, pesantren tersebut dikenal dengan nama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah pada tahun 1914.
As'ad ditempa disiplin kitab suci dan kesabaran hidup lalu kembali mencari ilmu ke Tanah Suci.
Ketika dia kembali dari Tanah Suci, As'ad tak segera duduk sebagai pewaris pesantren. Dia melanjutkan pengembaraan mencari ilmu untuk mondok ke sejumlah pesantren.
Dari Tebuireng di Jombang hingga ke Bangkalan di Madura, dan pesantren-pesantren lain, As'ad bukan sekedar membaca kitab, namun juga manusia serta kehidupannya.
Setelah ayahnya wafat pada 1951, As'ad baru mewarisi kepengurusan Pesantren Salafiyah Syafi'iyah. Kemudian pada 1968, Universitas Syafi'iyah berdirilah dengan fakultas tarbiyah dan fakultas dakwah di sana.
Mempertahankan kemerdekaan
Zaman tak hanya meminta doa, namun juga menuntut keberanian. Setelah resolusi jihad keluar untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, As'ad pun turun ke medan tempur memimpin laskar santri.
Di hutan-hutan kawasan Tapal Kuda, namanya bergaung sebagai pemimpin yang disegani-bukan karena kerasnya suara, tapi tujuan yang jernih: Merdeka atau Mati!.
Mengutip dari NU Online Jatim, KH As'ad terlibat dalam bergerilya berjuang mengusir penjajah Jepang dari Jember.
Dia menyusun strategi dan melancarkan serangan untuk melawan penjajah di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Sukowono yang menjadi markas utama.
KH As'ad yang dikenal berkarisma membuatnya disegani masyarakat yang berada di kawasan Tapal Kuda yang mencakup Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang, dan Pasuruan. Terlebih oleh ketiga laskar yakni laskar Sabilillah, Hizbullah, dan Pelopor.
Pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, As'ad ikut mengirim anggota Pelopor dan Pasukan Sabilillah Situbondo ke daerah Tanjung Perak kemudian bertempur hebat di Jembatan Merah.
Begitu pula, pengikut Kiai As'ad yang berasal dari Bondowoso, langsung menuju Tanjung Perak kemudian terlibat kontak senjata dengan Belanda di Jembatan Merah. Dalam peristiwa ini, Kiai As'ad aktif memimpin melawan penjajah Belanda yang membonceng ke pasukan sekutu tersebut.
Mengisi kemerdekaan
Di tengah dinamika politik pascakemerdekaan, KH As'ad menjadi salah satu pilar jembatan antara Islam dan nasionalisme Indonesia, antara iman dan kebangsaan.
Peran terakhirnya dalam sejarah Nahdlatul Ulama, menduduki kursi di Mustasyar (dewan penasihat) PBNU. Dia pun pernah menjadi Anggota Konstituante pada tahun 1957-1959.
KH As'ad Syamsul Arifin wafat pada 4 Agustus 1990 di Situbondo, Jawa Timur, pada usia 93 tahun.
Ia wafat pada 4 Agustus 1990, meninggalkan pesantren yang hidup, NU yang kokoh, dan bangsa yang pernah ia bela dengan doa dan darah.
KH Raden As'ad Syamsul Arifin kemudian ditetapkan menjadi pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 90/TK/Tahun 2016 tanggal 3 November 2016 yang menetapkan Keputusan Presiden tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama , tokoh, dan cendekiawan muslim yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah
(nat/kid)

14 hours ago
5

















































